Selasa, 16 Juni 2015

Proposal outdoor

BAB I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
           Kata matematika berasal dari kata “mathema” dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai “sain, ilmu pengetahuan atau belajar”. Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang semakin dirasakan hubungannya dengan bidang-bidang ilmu lainnya termasuk dalam kehidupan nyata atau real. Keterkaitan antara konsep matematika dengan kehidupan nyata merupakan suatu yang tidak terpisahkan, ada kalanya untuk menciptakan konsep matematika yang baik dan menarik bagi siswa membutuhkan pengaplikasikan langsung ke dalam situasi kehidupan real.
           Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.
           Konsep yang digunakan agar setiap siswa dapat memahami materi yg di sampaikan yaitu dengan konsep objek yang terdapat pada materi tersebut, dan mengkaitkan dengan cara pembelajaran matematika realistik dimana pembelajaran ini mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar,pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan matematika sebagai aktifitas siswa.
           Kelebihan dari Realistik Mathematic Education (RME) adalah kalau dalam matematika modern para siswa diberikan rumus terlebih dahulu, kalau dengan RME keadaan menjadi terbalik. Mereka mendapat latar belakang ceritanya, memahami, baru kemudian menentukan rumus. Pemberian materi pembelajaran pun sering dilakukan sambil bermain, bahkan diluar kelas (out door mathematics).hal ini dilakukan untuk menghindari stres pada anak didik. Dengan demikian matematika menjadi tidak menakutkan bahkan akan lebih menarik untuk matematika harus didesain semenarik mungkin sehingga siswa dapat berfikir kreatif dalam melihat permasalahan yang ada pada kehidupan nyata dan siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran itu.
           Namun, pada intinya metode pendidikan realistik ini bertujuan supaya siswa dapat belajar matematika dengan metode lain yang lebih mendekat kepada kognitif siswa dan untuk memotivasi siswa memahami konsep matematika dengan mengaitkan konsep tersebut dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
           Belah ketupat merupakan bangun datar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada saat di Kraton Yogyakarta setiap tiang-tiiang yang ada di “Gedhong kaca” atau sering di sebut dengan “Musium Sri Sultan Mangkuhubono ix” tersebut terdapat hiasan yang berbentuk belah ketupat. Penulis tertarik menggunakan konteks belah ketupat ini dalam makalah yang diharapkan dapat bermanfaat nantinya. Selepas dari permasalahan di atas maka penulis menggunakan pendekatan realistik untuk dapat mempermudah siswa memahami konsep belah ketupat dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Permasalahan
Ø  Bagaimana objek bisa saling berhubungan dengan matematika?
Ø  Konsep apa yg bisa mengangkat bahwa objek tersebut adalah contoh dari matematika realistik?
Ø  Model pembelajaran apa yang bisa digunakan oleh permasalahn diatsa?

C.    Tujuan
Ø  Untuk mengetahui penerapan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika.
Ø  Untuk mengetahui cara menghitung luas dan keliling pada belah ketupat pada salah satu tiang gedhong kaca di kraton.
Ø  Membangun pengetahuan baru tentang bagaimana cara menerapkan dan menghubungkan konsep Pendidikan Matematika Realistik (PMR) terhadap perhitungan matematika terkhusus pada materi bangun datar belah ketupat.

D. Manfaat
Ø  Agar siswa dapat memahami tentang matematika realistik yang terdapat diluar kelas.
Ø  Siswa dapat memahami tentang materi belah ketupat yang menghubungkan pada model pembelajaran PMR.












BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A.    Deskripsi Objek
(gambar bagian dari musim Sri Sultan HB ix)


 
(Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta.)
Keraton Yogyakarta. Dimana berada di 0 kilometer di jantung kota kawasan Malioboro. Khas budaya Jawa sangat terasa kental di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Bangunan Museum Sonobudoyo, Museum Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Kantor Pos besar dan Gedung BNI 46 menambah kesan jawa yang semakin kental dengan melihat bangunan yang masih berbentuk khas jawa yang alami.
Museum Keraton mencakup dari beberapa museum didalamnya yaitu, Museum Batik, Museum Pameran Lukisan dan Foto, Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Musem Kereta, dan museum Kristal.

Disini berisi benda koleksi peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, antara lain, meja tulis, cindera mata, foto, berbagai macam penghargaan berupa medali, tanda jasa, dan surat keputusan presiden RI tentang penganugerahan pahlawan nasional untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Juga terdapat mobil-mobilan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ketika masih kecil, peralatan memasak, bumbu dapur, baju dan beberapa benda sejenisnya.

(Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta.)

(Salah satu bangunan Tratag dalam kompleks keraton.)
            Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol  yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.
Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk atau berkonstruksi Joglo atau derivasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.
Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.
Untuk batu alas tiang, Ompak, berwarna hitam dipadu dengan ornamen berwarna emas. Warna putih mendominasi dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks. Lantai biasanya terbuat dari batu pualam putih atau dari ubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari halaman berpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utama yang lebih tinggi . Pada bangunan tertentu dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.
               Tiap-tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya   dengan jabatan penggunanya. Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakan oleh Sultan dalam kapasitas jabatannya, memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan dengan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunan maka ornamen semakin sederhana bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas bangunan juga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau keseluruhan dari bangunan itu sendiri.







B.     Konsep Matematika
Pada Musium Sri Sultan HB ix banyak hal yang telah ditemui seperti halnya fakta dan sejarah yang unik, serta ilmu pengetahuan yang banyak kita jumpai salah satu nya adalah ditemukannya konsep-konsep matematika yang diterapkan di musium Sri Sultan HB ix seperti halnya :
Ø  Pada lantai musium tersebut berbentuk persegi
Ø  Tiang yang berbentuk sebuah balok
Ø  Ornamen ditiang tersebut berbentuk belah ketupat
Ø  Meja yang berbentuk lingkaran
Ø  Karpet merah yang berbentuk sebuah kubus
Ø  Papan nama yang berada di samping meja yang berbentuk persegi panjang
Inilah salah satu yang merupakan penerapan konsep yang berkaitan terhadap matematika dengan ditemukan konsep matematika tersebut penulis tertarik untuk mengamati salah satu konsep matematika yang berada pada musium tersebut yaitu,”Ornamen yang berbentuk belah ketupat”.

C.    MATERI
a.      Pengertian Belah Ketupat
Belah ketupat adalah bangun datar segi empat yang kedua pasang sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang serta kedua diagonalnya berpotongan saling tegak lurus. Belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga sama kaki kongruen yang alasnya saling berimpit.
b.      Ciri-ciri belah ketupat
Ciri-ciri dari belah ketupat antara lain :
Ø  Mempunyai empat sisi yang sama panjang, "ab = bc = cd = da".
Ø  Mempunyai dua pasang sudut yang sama besar, "sudut a = sudut c dan sudut b = sudut d"
Ø  Jumlah ke empat sudutnya adalah 360 derajat.
Ø  Mempunyai dua  simetri lipat.
Ø  Mempunyai dua simetri putar.



c.       Sifat-sifat belah ketupat
Perhatikan Gambar 2.1.
Belah ketupat pada Gambar 2.1 di samping dibentuk dari segitiga sama kaki ABD dan bayangannya setelah dicerminkan terhadap alasnya. Dari pencerminan tersebut,  akan menempati dan  akan menempati  , sehingga AB = BC dan AD = DC. Karena ∆ABD sama kaki maka AB = AD. Akibatnya AB = BC = AD = DC. Dengan demikian diperoleh sifat sebagai berikut:
Selanjutnya, perhatikan diagonal AC dan BD pada belah ketupat ABCD. Jika belah ketupat ABCD tersebut dilipat menurut ruas garis AC, ∆ABC dan ∆ADC dapat saling menutupi secara tepat (berimpit). Oleh karena itu, adalah sumbu simetri, sedemikian sehingga sisi-sisi yang bersesuaian pada ∆ABC dan ∆ADC sama panjang. Demikian halnya, jika belah ketupat ABCD dilipat menurut ruas garis BD. ∆ABD dan ∆BCD akan saling berimpitan. Dalam hal ini,  adalah sumbu simetri. Padahal,  dan adalah diagonal-diagonal belah ketupat ABCD. Dengan demikian, diperoleh sifat sebagai berikut:





            Perhatikan kembali Gambar 2.1.
Putarlah belah ketupat ABCD sebesar setengah putaran dengan pusat titik O, sehingga OA ↔OC dan OB ↔ OD. Oleh karena itu, OA = OC dan OB = OD. Akibatnya,  AOB = COB dan AOD = COD, sedemikian sehingga
AOB + BOC = 180o (berpelurus)
AOB + AOB = 180o
2 AOB = 180o
AOB = 90o
Jadi,  AOB = BOC = 180o
 
 

Perhatikan kembali Gambar 2.1.
Apabila belah ketupat ABCD berturut-turut dilipat menurut garis diagonalnya, maka akan terbentuk bangun segitiga yang saling menutup (berimpit). Hal ini berarti A = C dan B = D. Akibatnya:
ACD = ACB;  CAD = CAB;  BDC = BDA; dan DBC = DBA
Dengan demikian dapat dikatakan sebagai berikut:
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sifat-sifat belah ketupat sebagai berikut:
Ø  Mempunyai empat sisi yang sama panjang dan sisi-sisi yang berhadapan sejajar.
Ø  Kedua diagonal pada belah ketupat merupakan sumbu simetri
Ø  Mempunyai dua diagonal yang tidak sama panjang yang saling berpotongan tegak lurus dan membagi dua sama panjang.
Ø  Pada setiap belah ketupat sudut-sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi dua sama besar oleh diagonal-diagonalnya.
Ø  Mempunyai dua simetri putar dan dua simetri lipat.
Ø  Dapat menempati bingkainya dengan empat cara.





d.      Keliling Belah Ketupat
Jika belah ketupat mempunyai panjang sisi s,
 maka keliling belah ketupat adalah:

K = AB + BC + CD + DA
                                                      K = s
                                                      K = 4 s
e.       Luas Belah Ketupat
Perhatikan kembali Gambar 2.1.1. Pada gambar tersebut menunjukkan belah ketupat ABCD dengan diagonal-diagonal AC dan BD berpotongan di titik O.
Luas belah ketupat ABCD = Luas ∆ABC + Luas ∆ADC
                                                        = AC  OB +  AC  OD
                                                        =  AC  (OB + OD)
                                                       =  AC  BD
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
L = ½ diagonal 1 x diagonal 2

Luas belah ketupat dengan diagonal-diagonalnya d1 dan d2 adalah
L = ½ diagonal 1 x diago

D.    Penerapan Matematika dalam Pembelajaran Matematika
1.  Realistic Mathematics Education (RME)
Realistic Mathematics Education adalah suatu teori dalam pendidikan matematika yang berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertical.
Teori Realistic Mathematics Education pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda sejak 42 tahun lalu (sejak tahun 1970) oleh Institut Freudenthal. Pembelajaran matematika harus dekat dengan anak dan kehidupan nyata sehari-hari. Pembelajaran matematika realistik adalah suatu  pembelajaran yang mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar, pengalaman nyata yang pernah dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan matematika sebagai aktivitas siswa. Dengan pendekatan RME tersebut, siswa tidak harus dibawa ke dunia nyata, tetapi berhubungan dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran siswa. Jadi siswa diajak berfikir bagaimana menyelesaikan masalah yang mungkin atau sering dialami siswa dalam kesehariannya.
Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep.  Siswa mengalami kesulitan matematika di kelas.  Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep matematika, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran Matematika Realistik (MR).Pengertian matematika realistik yang dimaksud dalam hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran matematika realistik dikelas berorientasi pada karakteristik RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika dan siswa diberi kesempatan untuk mengklasifikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari.Karakter RME menggunakan : konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan kontruksi siswa, interaktif dan keterkaitan.(Trevers, 1991 ;Van Heuvel-Panhuizen, 1998).
2. Prinsip-prinsip Matematika Realistik
Gravenmeijer (1994:91) ada tiga prinsip utama dalam pendidikan matematika realistik, yaitu :
Menemukan kembali dan matematisasi progresif (Gided reinvention and  progressive mahematization).
Melalui topik yang disajikan, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses menemukan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika seperti yang telah dilakukan oleh para ahli yang menemukannya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara : menggali kembali tentang sejarah matematika, memberikan kontextual problem yang mempunyai berbagai solusi yang sama, serta perancangan rute belajar yang sedemikian hingga siswa menemukan sendiri konsep atau prinsip matematika.
a.      Menemukan kembali dan matematisasi proresif (Gidet reinvention and progressive mahematization).
Melalui topik yang disaajikan,siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika seperti yang telah dilakukan oleh para ahli yang menemukannya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: menggali kembali tentang sejarah matematika, member kontextual problem yang mempunyai berbagai solusi yang sama, serta perancang rute belajar yang sedemikian hingga siswa menemukan sendiri konsep atau prinsip matematika.   
b.      Fenomena didaktik ( Didactical Phenomenology)
            Masalah kontektual yang diberikan kepada siswa diselesaikan berdasarkan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa tersebut, sehingga akan terjadi proses penyelesaian masalah yang berbeda. Untuk itu dibutuhkan suatu antisipasi dalam menghadapi berbagai penyelesaian yang mungkin dari permasalahan yang diberikan.
c.      Membangun sendiri model (Self develoved models)
Model yang dibangun siswa merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke matematika formal, yang artinya siswa membuat model sendiri dalam penyelesaian masalah. Model tersebut adalah suatu model dari situasi yang dekat dengan alam pemikiran siswa.
3.  Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik ( PMR )
            Dalam pembahasan karakteristik pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik timbul atas dasar Masalah-masalah realistik yang digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran matematika realistik di kelas berorientasi pada karakteristik RME, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika. Dan siswa diberi kesempatan untuk mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari. Karakteristik RME menggunakan: konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan kontruksi siswa, interaktif dan keterkaitan. Berikut beberapa karakteristik PMR :

a. Menggunakan konteks “dunia nyata”
            Pembelajaran matematika realistik diawali dengan masalah-masalah yang nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. Proses pencarian (inti) dari proses yang sesuai dengan situasi nyata yang dinyatakan oleh De Lange (1987) sebagai matematisasi konseptual. Dengan pembelajaran matematika realistik siswa dapat mengembangkan konsep yang lebih komplit. Kemudian siswa juga dapat mengaplikasikan konsep-konsep matematika ke bidang baru dan dunia nyata.

b. Menggunakan model-model (matematisasi)
            Istilah model ini berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan oleh siswa sendiri dan berperan sebagai jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.
c. Menggunakan produksi dan konstruksi
           Streefland (1991) menekankan bahwa dengan pembuatan “produksi bebas” siswa terdorong untuk melakukan refleksi pada bagian yang mereka anggap penting dalam proses belajar. Strategi-strategi formal siswa yang berupa prosedur pemecahan masalah konstekstual merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut yaitu untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika formal. Siswa membuat gambar bangun datar belah ketupat yang ditunjukkan dengan bagian-bagiannya. Dapat dilihat bahwa ternyata tiang bangunan di Kraton dapat dijadikan masalah kontekstual untuk materi menghitung luas dan keliling belah ketupat.
d. Menggunakan interaktif.
            Interaktif antara siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam pembelajaran matematika realistik. Bentuk-bentuk interaktif antara siswa dengan guru biasanya berupa negoisasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju, pertanyaan, digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.

e. Menggunakan keterkaitan dalam PMR
            Dalam pembelajaran ada keterkaitan dengan bidang yang lain, jadi kita harus memperhatikan juga bidang-bidang yang lainnya karena akan berpengaruh pada pemecahan masalah. Dalam mengaplikasikan matematika biasanya diperlukan pengetahuan yang kompleks, dan tidak hanya aritmatika, aljabar, atau geometri tetapi juga pada bidang lain.
PMRI mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika dikaitkan dengan realitas dan matematika merupakan aktivitas manusia. Pembelajaran matematika realistik merupakan pembelajaran matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. PMRI menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran dan melalui matematisasi horisontal-vertikal siswa diharapkan dapat menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika atau pengalaman matematika formal.
Matematisasi horisontal ialah pemunculan atau pengajuan ‘alat matematis’ atau ‘model matematis’ oleh siswa dari usahanya untuk mengorganisasi dan memecahkan masalah matematika yang terkandung dalam ‘real life situation ‘ (situasi kehidupan nyata). Contoh matematisasi horisontal adalah pengidentifikasian, perumusan, dan pemvisualisasi masalah dalam cara-cara yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real ke masalah matematik. Matematisasi vertikal adalah proses mengorganisasi ulang masalah matematika oleh siswa di dalam sistem matematika, misalnya penemuan jalan pintas dalam soal, penemuan hubungan antara konsep-konsep matematis atau antara strategi-strategi penyelesaian soal dan penerapan penemuan yang telah dilakukan siswa. Contoh matematisasi vertikal adalah representasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematik, penggunaan model-model yang berbeda, dan penggeneralisasian.  Kedua jenis matematisasi ini mendapat perhatian seimbang,  karena kedua matematisasi ini mempunyai nilai sama. Jadi, dalam matematisasi horizontal berangkat dari dunia nyata masuk ke dunia simbol sedangkan matematisasi vertikal berarti proses/ pelaksanaan dalam dunia simbol.
Frans Moerland memvisualisasikan proses matematisasi pembelajaran matematika realistik seperti pembentukan gunung es (iceberg). Proses pembentukan gunung es dilaut selalu diawali dari bagian dasar di bawah permukaan laut dan seterusnya akhirnya terbentuk puncak gunung es yang muncul di atas permukaan laut. Bagian dasar gunung es lebih luas dari pada puncaknya, dengan demikian konstruksi gunung es tersebut menjadi kokoh dan stabil. Proses ini diadopsi pada proses matematisasi dalam matematika realistik, yaitu dalam pembelajaran selalu diawali dengan matematisasi horisontal kemudian meningkat sampai matematisasi vertikal. Matematisasi horisontal lebih ditekankan untuk membentuk konstruksi matematika yang kokoh sehingga matematisasi vertikal lebih bermakna bagi siswa.
Gambar berikut merupakan salah satu contoh tingkatan proses matematisasi yang terdapat dalam prinsip-prinsip pembelajaran matematika realistik menurut Frans Moerland yang dikutip oleh Atmini Dhoruri.







Gambar 1. Contoh tingkatan proses matematisasi dalam prinsip pembelajaran matematika realistik.
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa dalam prinsip-prinsip pembelajaran matematika realistik, matematisasi horisontal mempunyai tiga tingkatan, yaitu: mathematical world orientation, model material, building some stone number relation. Sedang dalam matematisasi vertikal tingkatan formal notation merupakan kegiatan menggunakan notasi matematika formal.
a.       Mathematical world orientation dapat diartikan sebagai orientasi atau masalah matematika yang berkaitan dengan dunia nyata. Dunia nyata adalah segala sesuatu di luar matematika, atau kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Menurut Marpaung (2006: 6) contoh penerapan dari tingkatan ini dapat disajikan dalam bentuk soal cerita atau gambar atau dalam bahasa matematika.
b.      Model material berkaitan dengan model situasi dan model matematika. Dalam hal ini merupakan jembatan bagi siswa dari situasi real ke situasi abstrak atau dari matematika informal ke matematika formal.
c.       Building stone number relation di sini merupakan proses pembelajaran yang datang dari siswa sendiri. Misalnya siswa diberi soal cerita dan mereka dilatih mengubahnya menjadi suatu soal matematis. Contohnya siswa diberi kesempatan melakukan perhitungan dengan menggunakan benda konkret seperti batu atau biji-bijian (Marpaung, 2006: 4)
Dengan demikian, dalam proses pembelajaran matematika di kelas, guru harus menyajikan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran, dan siswa harus aktif menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri sesuai dengan skema yang dimiliki dalam pikirannya. Peran  guru pada pembelajaran matematika adalah sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses belajar, sebagai pembimbing atau teman belajar yang lebih berpengalaman yang tahu kapan saatnya memberi bantuan dan bagaimana caranya membantu, agar proses konstruksi dalam pikiran siswa dapat berkembang.

4. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan Matematika Realistik, sebagai berikut:
1.    Langkah pertama : memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
2.    Langkah kedua : manjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
3.    Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
4.         Langkah keempat : membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
5.         Langkah kelima : menyimpulkan, yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
5. Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Pendekatan Matematika Realistik
Beberapa kelebihan dari pembelajaran matematika realistic (PMR) antara lain sebagai berikut :
                           1.          PMR memeberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
                           2.          PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
                           3.          PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunkan cara sendiri, asalkan orang itu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelsaian yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut.
                           4.          PMR memberikan pengertian yang jelas dan opersional kepda siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan suatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.
Sedangkan beberapa kerumitan dalam penerapan pendekatan PMR antara lain sebagai berikut:
1.       Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk dipraktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual. Di dalam PMR siswa tidak lagi dipandang sebagai phak yang mempelajari segala sesuatu yang sudah “jadi”, tetapi sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep-konsep matematika. Guru dipandang lebih sebagai pendamping bagi siswa.
2.       Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut PMR tidak selalu mudah untuk setiap topic matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih lagi karena soal-soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam-macam cara.
3.       Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
4.       Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui soal-soal kontekstual, proses pematematikaan horizontal dan proses pematematikaan vertikal juga bukan merupakan suatu  yang sederhana, karena proses dan mekanisme, berpikir siswa harus diikuti dengan cermat, agar guru dapat membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep-konsep matematika tertentu. Walaupun pada pendekatan PMR terdapat kendala-kendala penerapannya, menurut peneliti kendala-kendala yang dimaksud hanya bersifat sementara (temporer). Kendala-kendala itu akan dapat teratasi jika pemdekatan PMR sering diterapkan. Hal ini sangat tergantung pada upaya dan kemampuan guru, siswa dan personal pendidikan lainnya untuk memngatasinya. Menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang baru, tentu akan terdapat kendala-kendala yang dihadapi diawal penerapannya. Kemudian sedikit-demi sedikit, kendala itu akan teratasi jika sudah terbiasa menggunakannya.
















BAB III. Pembahasan

A. Pembahasan Objek
             Didalam kehidupan sehari-hari banyak sekali permasalahan dan benda-benda yang berhubungan dengan matematika. Contohnya adalah bangunan-bangunan yang berbentuk atap bangunan, globe, nasi tumpeng dan lain-lain.
             Salah satunya di kawasan Kraton Yogyakarta yaitu di musium Sri Sultan HB ix dan di Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta telah banyak ditemukan benda-benda yang ada kaitannya dengan matematika seperti halnya pada gambar di bawah ini, yaitu merupakan salah satu benda yang berkaitan dengan matematika, untuk itu pada tanggal 30 Januari 2015 telah dilakukan pengamatan yaitu mengukur benda yang berbentuk belah ketupat di Kraton Yogyakarta.

(Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta.)
(Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta.)

(gambar saat penulis mengukur salah satu ornamen tiang di gedhong kaca atau di musium Sri Sultan HB ix)
(gambar penulis mengukur salah satu pembatas Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawita gamelan di Kraton Yogyakarta)

(gambar ornamen di tiang Musium Sri Sultan HB iX yang berbentuk belah ketupat)

Dari gambar diatas penulis terinspirasi untuk mengaitkan bangun tersebut dengan konsep matematika. Sehingga penulis tertarik mengambil judul “ Menghitung luas dan keliling belah ketupat pada ornamen tiang musiumSri Sultan HB ix di Kraton Yogyakarta dengan menggunakan Model Pembelajaran Matematika Realistik”.

B. pembahasan konsep pada objek

  

Jika diketahui panjang diagonal belah ketupat masing-masing 10 cm dan 13 cm. dan panjang sisinya 7 cm. Hitunglah keliling dan luas daerah belah ketupat tersebut ?
Jawab:
            Dik :    d1 : 10 cm       s : 7 cm
                        d2 : 13 cm
            Dit :     a. K…?
                        b. L… ?
Dijawab :         a. K =  4 x s
                                       =  4 x 7 cm = 28 cm
                 Jadi keliling belah ketupat 28 cm
           
b. L      = ½ d1 x d2
                        = ½ x 10 cm x 13 cm  = ½ x 130 cm =  65 cm²
              Jadi luas belah ketupat 65 cm²

C. Pembahasan Penerapan Konsep
Dalam pembahasan ini
           Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
1.      Langkah pertama : memahami masalah kontekstual,yaitu menemukan objek yang memiliki konsep matematika pada musium Sri Sultan Hb ix yang terdapat di tiang musium tersebut,yang berbentuk belah ketupat.
2.      Langkah kedua : menjelaskan masalah kontekstual, yaitu menjelaskan bagian-bagian yang terkandung pada objek yang ada di musium tersebut seperti halnya pada belah ketupat mengenai ciri-ciri maupun sifat-sifatnya dan lain-lain.
3.      Langkah ketiga : menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu melakukan pengamatan terhadap objek yang ada di musium tersebut serta meneliti seperti : ukuran pada objek ornamen ditiang musium yang berbentuk belah ketupat.
4.      Langkah keempat : membandingkan dan mendiskusikan jawaban,yaitu melakukan bimbingan dalam menyelesaikan pengamatan yang telah dilakukan.
5.      Langkah kelima : menyimpulkan,bahwa di dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan objek-objek matematika yang diterapkan salah satunya yaitu penerapan konsep pada suatu bangunan seperti halnya pada Musium Sri Sultan Hb ix yang mana telah ditemukan bentuk belah ketupat di tiang musium tersebut.



























BAB IV. PENUTUP

A.      Simpulan
Berdasarkan uraian dari makalah di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
ü  Matematika realistik merupakan matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menepatkan realitas dan pengamatan siswa sebagai titik awal pembelajaran.
ü  Objek yang ada di musium Sri Sultan HB ix yang berada di Kraton Yogyakarta dapat berkaitan dengan model Pembelajaran Matematika Realistik.
ü  Dengan adanya PMR yang diterapkan diluar kelas membuat anak lebih sedikit menyukai matematika, dan bisa lebih kreatif.
ü  Belah ketupat merupakan segi empat yang terbentuk dari dua segitiga sama kaki yang kongruen. Belah ketupat memiliki panjang yang berbeda dan saling memotong tegak lurus menjadi dua bagian sama panjang, dan diagonal nya pun merupakan sumbu simetri.
B.  Saran
Adapun saran yang bisa diberikan adalah :
1.      Diharapkan kepada pendidik untuk mencoba menerapkan pembelajaran matematika realistic secara bertahap.
2.      Untuk memperbaiki prestasi belajar matematika siswa, maka pendidik untuk lebih kreatif seperti halnya menerapkan Out Door Mathematic dan matematika Realistik.




DAFTAR PUSTAKA


ü  Adriyanti,dkk.2011.ringkasan teori dan evaluasi matematika ,jakarta:data prima